# 30 Mei

Posted on Mei 31, 2008. Filed under: Ngobrol |

Pagi itu saya tinggal sendiri di rumah, sekitar pukul 08.15 WIB terdengar ketukan pintu dari arah gerbang rumah. Karena saya sendiri sedang mandi saya bilang “sebentar”. Orang itupun masih mengetuk dan manggil saya, setelah keluar ternyata yang datang mba Jum. “mba, bawa apa itu, mba.?”, tanyaku. “ga’ tau itu, dikasih mertua.”, jawabnya santai.

Seperti biasa setiap pagi saya di depan komputer, nyalakan komputer membuka Email, XMMS Music player, dan Gaim Internet Messenger. Mba Jum masih duduk di sofa depan sambil membaca suratkabar edisi 30/5/08. Selang beberapa menit mba Jum ke kamar kecil, dan setelah itu dia menyalakan komputer yang berada di ruang pojok. Tak sengaja uang dan HP fleksinya ditaruh di meja tengah, dia masih berada di ruang pojok.

Karena saya di panggil teman “lewat chating” untuk masak nasi, saya meninggalkan rumah. Karena jarak antara rumahku dengan rumah teman tidak terlalu jauh kurang lebih 150 meter, pintu gerbang hanya saya tutup (tidak di kunci), alasan saya karena di dalam ada mba Jum dan saya juga tidak lama-lama di sana. Hanya mencuci beras dan menaruh pada alat pemasak nasi, saya langsung pulang. Setelah saya pulang saya kaget, karena pintu gerbang terbuka lebar. “mba!!!, tadi keluarnya, mba?.”, tanyaku. “tidak!”, jawabnya. “itu pintu terbuka siapa yang datang, mba?.”, tanyaku lagi. “Oooooo…….itu, tadi kang Kirman yang datang.”, jawabnya dengan santai. “lah sekarang mana orangnya?”, tanyaku lagi. “lagi jemput pak Kirun, tadi nelpon suruh jemput di depan jalan.”, jawabnya lagi.

Selang beberapa menit kang Kirman dan pak Kirun datang, dan di susul mba Kus. Setelah semuanya datang merekapun mendiskusikan program yang akan dijalani di ruang tengah, saya masih tetap di ruang depan di depan komputer. Selang satu jam pak Jamal datang, dia langsung masuk ke ruang sebelah tidak ikut diskusi bersama teman-teman. Hari semakin siang dan tibalah saat shalat jum’at. Saya dan pak Jamal berangkat ke masjid, dan di susul kang Kirman. Sepulang dari masjid saya di minta mengantarkan mba Jum ke terminal, dia mau pulang kerumah orang tuanya yang semalam baru nginap di rumah mertua.

Dalam perjalanan mba Jum memberi pesan “mas, nanti kalau HP saya ada di rumah mas, tolong di simpankan dulu.”, pesannya dalam perjalanan. Setelah sampai terminal mba Jum mengajak saya makan siang di sebuah warung nasi sederhana. Di warung tersebut saya menanyakan, apa HPnya ketinggalan di rumahku apa gimana. Dan akhirnya dia menceritakan yang sebenarnya. “mas, tadi pagi mas liat ga HPku di meja tengah?.”, mengawali bertanya. “lihat, sama uang ribuan kan?.”, jawabku balik tanya. “iya, tapi tadi pagi sewaktu mas keluar HPku tidak ada, aku tanya ke kang Kirman juga tidak tau.”,ceritanya. “apa mba tidak liat ada orang masuk kerumah selain kang Kirman?.”, tanyaku. “tidak tau, soalnya aku kan di ruang pojok, lagipula suara komputernya keras (karena sudah rusak kipas pendinginnya) jadi aku tidak tau kalau ada yang masu rumah.”, tambahnya.

Mendengar cerita mba Jum, selesai makan saya pulang langsung mencari HPnya Tirin yang semalam ketinggalan di meja depan tempat aku nongkrong. Kesana kemari mata memandang, namun HP itu tak kelihatan juga. “apa iya HP Tirin juga ilang.”, dalam batin saya. Yang anehnya HPku masih ada di bawah jendela “karena sedang di cas”, tapi kenapa dua HP tidak ada. Setelah saya cari kemana-mana tidak ada, berusaha saya hubungi HP Tirin, namun HP tersebut sudah tidak aktif. Berkli-kali saya hubungi, tetap hasilnya sama. Begitu juga dengan HP mba jum, berkali-kali dihubungi juga tidak aktif.

Setelah sore saya bercerita masalah kejadian siang itu pada pak Kirun, beliaupun sudah tau masalah yang terjadi pada saat itu. Saya berdua bingung, apa ada teman kita yang nekad berbuat seperti itu. Kalau kang Kirman apa mungkin?, tidak mungkin kalau dia, karena dia di rumah sudah seperti rumah sendiri. Mba Kus juga tidakmungkin, lalu siapa ya?. Hal ini masih jadi tanda tanya saya dan teman-teman, kira-kira siapa ya?.

Esok harinya saya tanya kang Kirman , “kang, kemaren waktu masuk rumah, pintu gerbang tertutup apa terbuka?.”, tanyaku padanya. “pintu gerbang sudah terbuka, tapi masih sedikit belum terbuka semua.”, jawabnya. “terus apa liat ada orang masuk rumah apa tidak, kang?.”, tanyaku lagi. “tidak ada luh.”, jawabnya. Siapa ya?, bisa secepat itu gerakannya. Benar-benar pinter dan trampil itu orang.

Sudah dua hari ini belum ada titik terang masalah ini, membuat perasaan jadi tidak nyaman lagi tinggal di rumah ini. Berarti di rumah mesti ekstra waspada, jangan sampai memberi kesempatan lagi pada itu orang. Karena orang berbuat seperti itu karena ada kesempatan, apa lagi dijaman seperti sekarang ini yang serba susah. Memang sekarang ini sering sekali kejadian seperti yang menimpa saya dan teman-teman. Ini menjadi pengalaman dan pelajaran diri. Buat teman-teman, semoga jangan sampai mengalami hal seperti ini.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: