Kerja keras Kiman, merubah perlakuan masyarakat

Posted on Juli 7, 2008. Filed under: Cerita |

Kiman adalah warga Pecaron yang terbelakang, keberadaannya yang jauh dari keramaian Desa. Hanya alam yang dekat dan bersahabat dengannya, karena keterbatasan kemampuan bergaul (kuper) dengan teman dan tetangga, tak jarang diapun selalu jadi bahan ejekan teman-temannya. Oleh karena itu Kiman jarang kumpul dan bergaul dengan teman, dia merasa dianak tirikan dan selalu jadi bahan tertawaan temannya.

Keluarga Kiman keluarga sejahtera, dalam kehidupan sehari-hari keluarga tersebut tak pernah terdengar keributan ataupun percekcokan. Dalam satu rumah kiman hidup bersama istri dan tiga anaknya, tanpa tetangga di kanan kiri rumah. Dia hidup dalam pelukan alam yang menghidupinya.

Merasa tidak mampu dirinya bergaul dengan masyarakat dia tidak ingin anak-anaknya diperlakukan temannya seperti dirinya diperlakukan teman dan tetangga, dengan demikian dia bercita-cita ingin menyekolahkan anak-anaknya kejenjang yang lebih tinggi, supaya anaknya punya kemampuan bermasyarakat dan bermartabat.

Besar cita-cita untuk menyekolahkan anak-anaknya Kiman harus bekerja keras membanbting tulang mencari biaya sekolah juga kebutuhan hidup, hanya seorang penderes “pembuat gula merah” Kiman mempu memenuhi kebutuhan hidup yang diperlukan. Kiman berbeda dengan penderes lainnya, yang biasanya nderes 10 sampai 30 pohon kelapa, Kiman sampai 50 bahkan 65 pohon kelapa yang dideres bahkan lebih. Kiman setiap hari selalu bangun pagi sekali, itu dilakukan supaya nderesnya tidak kesiangan dan bisa istirahat dan mencari kayu bakar, sedangkan sang istri yang memasak hasil deresan tersebut. Itu dilakukannya dengan senang, setiap hari dia hanya nderes dan mencari kayu bakar, untuk memasak hasil deresan supaya menjadi gula merah, dan hasil deresannya bisa untuk kebutuhan sekolah anaknya dan kehidupan sehari-hari.

Dengan kerja keras yang dilakukan akhirnya anak-anaknya bisa sekolah kejenjang yang lebih tinggi, bahkan satu dari anaknya bisa menyelesaikan SMA dan sekarang bekeja disebuah bengkel motor selain itu dia juga menjadi pengurus disebuah organisasi kemasyarakatan di desanya. Tidak sia-sia usaha kiman menyekolahkan anaknya hingga kejenjang SMA, senang hati kiman melihat anak-anaknya menjadi  orang yang bisa bersosialisasi dengan masyarakat dan dianggap di masyarakat dan diorangkan. Sekarang kiman  tidak lagi diejek dan dijadikan bahan tertawaan teman dan tetangga, karena sekarang Kiman tidak ragu dan minder bergaul dengan teman dan tetangga. Itu semua karena Kiman belajar bagaimana cara bergaul pada anaknya.

Iklan

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: