Apa benar slip biru (surat tilang) di Kebumen sudah dibekukan?

Posted on Agustus 23, 2008. Filed under: Pengakuan, Pengalaman |

Hallo Dunia…….

Maaf nih lama banget blog ini tidak keurus, tapi jangan khawatir. Ada sedikit cerita nih buat temen-temen setelah sekian lama tidak nongol.  Karena cerita inilah salah satunya yang menjadikan saya tidak nongol-nongol di dunia maya ini.     ***********

Beberapa hari yang lalu tepatnya sabtu 19 juli 2008, dalam perjalanan pulang dari rumah teman tiba-tiba saya dihentikan oleh seorang polisi yang memakai sepeda motor tril berwarna hitam putih khas polisi. Ya, motor tril saya menyebutnya. Tepat di depan Depot isi ulang Arya Thirta Jl.HM.Sarbini saya dihentikan, saya pun kaget ketika polisi tersebut menghentikan motornya pas didepanku. Tanpa basa-basi setelah memberi salam polisi tersebut menanyakan surat-surat motor saya, dengan senang hati saya pun memberikan STNK. Hanya menunjukan STNK tidak cukup rupanya, dan polisi tersebut memintaku menunjukan SIM. Saya bilang terusterang pada polisi tersebut, kalu SIM saya telah hilang setahun yang lalu, akhirnya polisi tersebut memintaku datang ke Pos jaga di pertigaan dari arah selatan pasar kebumen”Saya tidak tau persis nama pos tersebut, yang jelas saya diminta mengikuti polisi tersebut ke pos”.

Sesampainya di pos, polisi yang mengejar saya menyerahkan STNK motorku kepolisi yang berada di pos tersebut, mungkin itu atasannya atau apanya aku tidak begitu paham, yang jelas polisi itu sudah punya pangkat BRIPTU/83030725 dari kesatuan Res Kbm. Tanpa panjang lebar karena saya merasa bersalah, saya langsung bilang “Tilang aja pak”, polisi yang berpangkat tersebut pun bilang pada polisi yang mengejar saya. Kedua polisi tersebut saling menunjuk atas nama penilangan, akhirnya yang punya pangkat itulah yang menilang saya.

Sebelum saya menandatangani surat penilangan, saya menanyakan slip yang berwarna biru. Namun, si polisi dengan enaknya bilang “Saya malah tidak tau masalah slip biru”. Kaget, ketika saya mendengar hal tersebut, “bisa ya, polisi kebumen tidak tau yang namanya slip biru, padahal saya lihat dalam lembaran buku tilang ada yang berwarna merah, biru, hijau, dan lainnya. Tapi kenapa ketika saya meminta slip yang warna biru polisi itu menjawab demikian, apa hanya pura-pura atau memang benar-benar tidak tau?” heran dalam batin. Apa benar, padahal belum lama ini saya baru membaca email kiriman dar teman yang mengalami hal yang sama (kena tilang) dan dia bercerita masalah slip biru dan slip merah. Malah saya jadi seolah-olah menggurui itu polisi ketika saya menerangkan masalah slip biru, gimana ini? Oke…..saya tidak dapat slip biru tidak apa, toh sidang di Pengadilan Negeri juga sama aja, cuma bedanya hanya dalam proses.

Setelah ditulis lengkap dalam slip tilang yang berwarna merah, saya masih menanyakan lagi, yang saya tanyakan sekarang adalah jaminan/barang yang disita penilangan. Lagi-lagi saya harus menerangkan pada polisi tersebut, karena polisi tersebut akan menyita sepeda motorku. Saya tidak mau jika motorku sebagai jaminan penilangan, yang saya tau namanya jaminan dalam tilang ada 3 macam. 1) SIM. SIM bisa jadi jaminan, jika si pelanggar menghendaki jaminannya SIM dan tidak bisa menunjukan STNK. 2) STNK. Jika pelanggar tidak bisa menunjukan SIM, maka STNK bisa untuk jaminan. 3) Sepeda Motor. Yang terakhir ini bisa dilakukan jika pelanggar tidak bisa menunjukan SIM dan STNK, karena hal ini bisa dikatagorikan dalam hal curanmor. Dan satu hal lagi, jika pelanggar memberikan SIM dan STNK pada polisi, maka mintalah salah satu dari itu, jangan keduanya dijadikan jaminan.

Cukup lama saya berada di pos tersebut, hingga saya sempat melihat ada seorang pemuda yang baru kena tilang dan datang ke pos tersebut memberikan sejumlah uang pada polisi itu, mungkin itu sebagai jalan damai. Apa itu yang diharapkan kedua polisi itu dariku? Hingga dia bertele-tele memberikan surat tilang padaku, padahal saya sudah menandatangani surat tilang tersebut. Selang beberapa menit setelah pemuda tadi pergi, barulah surat tilang tersebut deberikan. Setelah saya menerima surat tilang tersebut saya menanyakan tanggal sidang, dengan nada ketus polisi tersebut menyuruhku melihat tanggal yang tertera dalam kertas yang berwarna merah yang saya pegang.

Setelah menunggu berhari-hari, tibalah tanggal yang titentukan (7 agustus 2008) untuk menghadiri sidang di Pengadilan Negeri. Pagi-pagi sekali saya mendatangi Pengadilan Negeri Kebumen, sesampainya di PN saya harus menunggu pendaftaran sidang dibuka. Hampir 1 jam saya menunggu di depan ruang pendaftaran. Tapi, setelah dibuka dan saya menyerahkan surat tilang kepetugas pendaftaran, jaminan (STNK) belum diantarkan ke PN tersebut, petugas pengadilan menyarankan saya untuk menanyakan ke kantor polisi dimana polisi yang menilang saya bertugas.

Selang beberapa menit saya sampai kantor dimana polisi yang menilang saya bertugas, kebetulan jarak dari PN tidak terlalu jauh. Ditempat pembuatan SIM saya masuk kantor kebagian berkas penilangan, disitulah saya menanyakan keberadaan STNK sepeda motorku. Saya tidak begitu hapal nama polisi tersebut, yang aku tau dia menangani berkas-berkas tilang.

Di ruangannya saya menanyakan polisi yang menilangku, polisi itu memberitahu bahwa polisi yang menilangku telah pindah tugas. “Mas, dia (polisi yang menilangku) sudah tidak bertugas disini. Sekarang dia tugas di Prembun.” kata polisi bagian tilang. “Mas, ga usah dicari kesana nanti susah nyarinya, biar tak perpanjang lagi aja ya sidangnya. Nanti tak mintakan STNK mas kesana.” tambahnya. Saya pun menyetujuinya, daripada repot-repot mencari ke Prembun, lebih baik nunggu 1 minggu lagi.

Dikantor tersebut saya juga menanyakan lagi masalah slip biru, polisi tersebut malah menerangkan bahwa program slip biru sudah dibekukan. Dengan alasan susah mengambil uang tilang yang disetorkan si pelanggar ke Bank yang ditunjuk, dia menerangkan pihak bank tidak memberikan uangnya selain nama yang menyetorkan. Malah tambah bingung saya, bagaiman sistem kerjasamanya dengan pihak bank. Apa yang mengambil uang tilang tersebut polisi apa siapa? Bukannya uang tersebut masuk kekas Negara, apa bagaimana? Terus bagaimana dengan sistem tersebut, apa memang benar program slip biru sudah dibekukan? atau polisi tersebut hanya menutupi temannya aja? Entahlah……..yang jelas seperti itu keterangannya.

Setelah diperpanjang 1 minggu dalam surat tilang, sesuai tanggal yang ditetapkan saya pun mendatangi PN Kebumen. Ada-ada aja di PN Kebumen, kenapa saya harus berhadapan dengan orang yang seolah akan membantu saya (calo), dilihat dari seragam yang dikenakan dia sepertinya pegawai PN Kebumen. Untungnya saya tidak menerima tawarannya, saya pun langsung menuju tempat pendafran sidang. Hampir dua jam saya menunggu sidang, yang menurut jadwal sidang adalah pukul 09.00 WIB saya harus menunggu sampai pukul 10.00 WIB lebih.

Setelah lama menunggu akhirnya saya dipanggil juga menghadap ketua sidang, sidang pun dimuai. Baru kali ini saya mengikuti sidang di PN Kebumen. Tidak terlalu sulit dan rumit, ketua sidang hanya mengecek identitas dan kesalahan yang telah dilakukan terdakwa. Setelah itu baru dijatuhkanlah denda yang harus dibayar terdakwa kepengadilan, jika terdakwa merasa masih keberatan atas denda tersebut, terdakwa boleh minta keringanan pada ketua sidang. Jika sudah ada kesepakatan, barulan palu hakim diketuk dan tinggal membayar denda dibagian administrasi.

2 Tanggapan to “Apa benar slip biru (surat tilang) di Kebumen sudah dibekukan?”

RSS Feed for Jladri Garden Comments RSS Feed

trus STNKny wis ana urung kang?

wah padahal slip biru pada surat tilang tetap akan berlalu. tidak pernah di bekukan didaerah manapun.


Komentar ditutup.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: