Modal kenal kepala Desa, Kedua Anak itu bebas dari cegatan (Operasi gabungan) polisi

Posted on Agustus 23, 2008. Filed under: Pengalaman |

Kencang sekali Tame mengendarai sepeda motor, kelihatannya mereka tergesa-gesa menuju rumah. Semua orang yang melihatnya pun heran dan terkejut, tak biasanya anak itu naik motor sekencang itu. Tambah heran lagi ketika mereka berdua “Tame dan Manding” selain kencang juga sambil cekikikan di atas motornya, sebenarnya apa yang mereka alami? Pertanyaan dalam hati orang yang melihatnya, apa lagi temannya yang sedang duduk santai di depan rumah Tame.

Setelah berhenti di depan rumah dan menyetandar motor, Tame dan Manding pun masih cekikikan. Saking penasaran teman-teman yang ada di tempat tersebut langsung menanyai mereka berdua. Cukup lama teman-teman menunggu jawaban dari mereka berdua, karena saking lucunya “mungkin” kejadian yang baru mereka alami dan membuat mereka tak henti-henti dari ketawanya. Masih dengan cekikikan Tame sedikit menjawab pertanyaan temannya, tapi temannya minta Tame menceritakan lebih jelas.

“Me (panggilan Tame), sebenere anu ana apa, deneng gole nunggang montor banter temen, kaya wong kebelisen. Malah karo guyon mbarang, jane anu nangapa?(Me, sebenarnya ada apa, kenapa naik motornya kencang sekali, seperti kerasukan setan. Malah sambil becanda, sebenarnya kenapa? )” tanya salah satu teman dengan nada penasaran.

“Lucu, lucu banget (Lucu, lucu sekali)” sahut Tame masih dengan cekikikan.

“Wis, jel siki mandeg gole ngguyu. Siki crita jane anu lucu kepriben? (Dah, coba sekarang berhenti ketawanya. Sekarang cerita sebenarnya lucu bagaiman?)” teman yang masih penasaran menyuruh Tame menceritakan.

“Dadi kaya kie critane (Jadi seperti ini ceritanya), Tame memulai cerita.

“Miki aku karo Manding tes nonton bal-balan nang lapangan kecamatan (Tadi saya dengan Manding habis nonton sepak bola di lapangan kecamatan), Nang tengah ndalan ana polisi agi ngendegi montor sing pada liwat (Ditengah jalan ada polisi sedang menghentikan motor yang sedang lewat). Aku ora ngeti nek kue operasi gabunagan kangaring Polres (Saya tidak tau kalau itu opersi gabungan dari Polres), terus aku liwat bae (Terus saya lewat aja), malah di semprit kon mandeg nang salah sijine pak polisi sing ana nang kono (Malah dibunyikan peluit disuruh berhenti oleh salah satu pak polisi yang ada disitu ). Mbarang wis diendeg (Setelah dihentikan), polisine malah hormat aring aku (Polisinya malah hormat pada saya).” cerita Tame masih dengan sedikit-sedikit cekikikan dan tidak tau tingkah dari apa yang dilakukan pak polisi pada mereka.

Tame merasa heran ketika dia deberi horamat pak polisi, dalam batin Tame “kenapa aku dihormati, seperti atasannya aja”. Maklum, Tame adalah anak kampung yang baru menginjak umur belasan tahun, yang tidak tau tatatertib lalulintas alias ndeso. Begitu juga dengan Manding, mereka adalah teman sekampung dan juga teman sekelasnya di sekolah.

Lanjut cerita.

Seperti halnya kebanyakan polisi yang beroperasi, setelah memberi salam pak polisi menanyakan surat-surat motor yang dinaiki Tame dan Manding.

“Maaf, bisa menunjukan surat-suratnya?” tanya pak polisi dengan nada sangar.

Karena Tame yang didepan dan Manding yang diboncengnya, Tame pun menjawab pertanyaan pak polisi tersebut.

“Maaf pak, sekarang sudah bukan jamannya surat-suratan. Sekarang sudah jaman moderen pak, sekarang jamannya SMS-san.” jawab Tame pada pak polisi sedikit grogi dan takut.

“Bukan itu yang aku maksud. Mana STNK dan SIMnya?” tanya pak polisi mengulang.

“Tidak dibawa pak” jawab Tame grogi.

“Bagaimana sih, masa naik motor tidak bawa surat-surat. Kamu anak mana?” geram pak polisi sambil menanyakan tempat tinggal.

“Anak Dampar kencana pak” jawab Tame ketakutan.

“Terus kamu anak mana?” tanya polisi pada Manding.

“Anak Pecaron pak” jawab manding ketakutan juga, karena mereka berdua baru pertama kali berhadapan dengan polisi.

“Gimana sih, kamu ngaku anak Dampar kencana, dan kamu anak Pecaron, yang benar yang mana?” sentak pak polisi dengan menunjuk mereka satu persatu.

“Begini pak ceritanya.” Tame berusaha menjelaskan.

“Tadi aku sama Manding baru menyelesaikan tugas sekolah di rumah teman di Wadas malang, karena Manding tidak bawa kendaraan jadi sekalian aja aku mengantarnya pulang.” cerita Tame pada pak polisi.

Dengan berbagai cara dan bercerita kesana kemari akhirnya Tame bisa mereda emosi pak polisi tersebut yang sudah dibuatnya jengkel, dan setelah ditanya kesana kemari Tame pun terbebas dari segala sesuatunya. Pak polisi akhirnya membebaskan Tame dan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, padahal setiap orang yang tidak mematuhi tata tertib berkendara pasti kena tilang ataupun denda ditempat (damai alias suap).

Tame dibebaskan dari operasi bukan karena Tame pintar bercerita atau mencari akal, itu karena pak polisinya kenal dengan lurah (Kepala Desa) dimana Tame tinggal. Memang hebat sekenario yang dibuat Tame dan Manding, mereka pura-pura bilang bukan anak sekampung, dan mereka bilang baru menyelesaikan tugas sikolah di rumah teman. Tapi, bahwa yang sesungguhnya mereka berdua adalah satu kampung, dan baru pulang dari nonton pertandingan sepak bola di lapangan kecamatan. Sungguh hebat, sekenario tanpa perencanaan dan tanpa persiapan yang disadari.

Selesai bercerita pada teman dan orang yang berada di depan rumahnya, Tame pun kembali ketawa terbahak-bahak mengingat kejadian yang baru dialaminya. Bukan hanya Tame dan Manding yang tertawa terbahak-bahak, semua teman dan orang yang mendengar ceritanya pun ikut tertawa, hingga suasana dihalaman rumahnyapun menjadi berubah ramai.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: