Ngamen bukan berarti Uang

Posted on Desember 20, 2008. Filed under: BELAJAR, Cerita, Ngobrol |

anak

Sore itu ketika matahari sedikit bergeser kearah barat, beberapa anak mencoba menghibur saya didepan rumah dengan melantunkan sebuah lagu yang saya tidak tau entah lagu apa itu (ngamen). Saya amati betul, kira-kira lagu apa yang dia nyanyikan, sepertinya dia menyanyikan lagu kesukaannya (lagu yang sedang naik daun di TV).

Bukan karena nyanyian dan petikan gitarnya yang elok, tapi proses ketika anak-anak tersebut mulai masuk pintu gerbang rumahlah yang membuat saya ketawa (terhibur).

Baru kali ini saya ngalami ada pengamen yang melakukan proses diskusi sebelum kulonuwun (masuk pintu gerbang) dan memainkan gitarnya. Sesekali anak-anak itu masuk, keluar lagi, masuk lagi, keluar lagi, dan terus terulang hingga 4 – 5 kali, sampai-sampai saya malah mempersilahkan anak-anak tersebut untuk masuk.

Canda tawa pun menghiasi dalam pertunjukannya, saling dorong satu sama lain. Ketika anak-anak itu mulai memainkan gitar, sengaja saya diamkan, sesekali diantara mereka bilang “udah mas, lagunya udah habis….”. Saya tau kalau lagu yang dinyanyikannya sudah terlalu lama (habis), tapi saya sengaja belum tak kasih uang, karena saya kepengin tau bagaimana ekpresi anak-anak tersebut selanjutnya.

Beberapa saat anak-anak tersebut tak ajak ngobrol, ternyata dari sebagian anak tersebut hanya 1 anak yang baru bisa memainkan gitar, itupun masih asal bunyi.

Waduh…….anak-anak sekarang.

Tapi menarik, ada pelajaran yang diambil anak-anak tersebut dari apa yang dilakukannya. 1. Proses trasisi diskusi 2. Melatih keberania “walaupun kemampuannya masih terbatas 3. Percaya diri 4. dan seterusnya silahkan dipikirkan sendiri………..

8 Tanggapan to “Ngamen bukan berarti Uang”

RSS Feed for Jladri Garden Comments RSS Feed

Wah, anak-anak itu sptnya sudah terkontaminasi budaya republik pemimpi, tetangga kita Mas..

Moga2 bae keberanian mereka bisa lebih diarahkan ke hal positif.

Salam utk Kang Dariman..

Salam balik kang Suhar

Ya….jaman memang sudah seperti ini, tapi saya yakin. Anak-anak itu anak yang baik, dia hanya ingin merasakan bagaimana dan apa yang ada dalam proses ngamen tersebut, buktinya dia sekarang sudah tidak ngamen lagi. Mudah-mudahan hal itu menjadi pelajaran yang berarti buat itu anak. Amin.

eh….iya kang Suhar. Kapan pada ngumpulnya? mbok yao wong Jladri diundang, ben ketularan pinterešŸ˜€

Iya salut sama keberanian mereka
salut juga buat usaha dan keberanian mereka..
yang jelas mereka memiliki kemauan yang tinggi
tentunya ini akan menjadi kunci suksesnya kelak
saya menykai musik walaupun gak suka nyanyi kare
karena itu sukaa bgt ma anak2 itu yang mau
belajar gitar. semoga nanti mereka bisa jadi profesional

duh komennya ko’ blepotan gitu yaa….

He he he he,,,…..bukan blepotan mba.

Ya, semoga saja mereka menemukan ruang yang lebih baik.

Bener Kang Dariman, konon selama dikelola dengan baik dan positif, keberanian justru modal utama utk sukses.

Masalah kumpul, aku malah ngetutna rika Kang. Disamping deket dg Kang Tajib yg sbg mediator, rika juga jauh lbh senior dan mateng dr saya.:-D

Saling kabar mengkabar bae Kang..

Waduh………..malah melu meng aku. Aku cah cilik sing urung ngerti apa-apa, dadi ya….monggo sing sepuh sing mandegani.

Kira-kira arep kapan kopdar, aku mampir nang umaeh mba Rita ketone ko apik temen, sering ana kunjungan, kopdar sesama bloger. Dadi aku kepengin, jane kaya ngapasih kopdaršŸ˜€. Tapi, menurutku kopdar kue aja kur sekedar kopdar, monggo di konsep kang Suhar.

nek sida kopdar, kasih info ya kang-mbakyu, sapa ngerti aku agi nang kebumenšŸ˜€
lam kenal buat blogger kebumen


Komentar ditutup.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: